HRS Bisa Ubah Gaya Politik Indonesia 2020

HRS Bisa Ubah Gaya Politik Indonesia 2020

Imam Besar Front Pembela Islam (FPI), Habib Rizieq Shihab (HRS) dikabarkan bakal pulang ke Tanah Air, pada 10 November nanti. HRS dikabarkan mengantongi tiket pulang ke Indonesia bersama keluarganya dan bakal mendarat di Bandara Internasional, Soekarno-Hatta Cengkareng, sekira pukul 09.00 WIB.

Direktur Eksekutif Sudut Demokrasi Research plus Analysis (Sudra), Fadhli Harahab meyakini, keberadaan HRS di tanah air bakal mempengaruhi keadaan politik Tanah Air. Selain diakui ulama, HRS terhitung dapat diakui inisiator kebangkitan Islam versi grup 212.

“Dia (HRS) berangkat ke sana (Arab Saudi) terhitung karena peristiwa politik pas itu. HRS dan kelompoknya itu secara politik berseberangan bersama rezim Jokowi. Soal tersedia kasusnya itu kan soal lain, itu kewenangan yang dimiliki penegak hukum,” kata Fadhli di dalam keterangan resmi yang di terima Republika, Kamis (5/11).

Fadhli memantau sejak HRS berada di Tanah Arab, isu kepulangannya sudah ‘hilir mudik’ di telinga masyarakat. Bahkan, isu kepulangan ini dianggap tetap ‘dikapitalisasi’ oleh pihak-pihak spesifik untuk merawat HRS sebagai imam besar, baik disampaikan secara segera maupun lewat spanduk-spanduk.
Taruhan Bola
Menurut Fadhli, perihal ini lah yang mengindikasikan ‘gelagat’ keberadaan HRS di Tanah Air nantinya bakal mempengaruhi keadaan politik di dalam negeri. Menurut dia, perihal ini masih disempurnakan bersama seruan dan maklumat HRS selama berada di Arab yang menyemangati setiap aksi-aksi grup islam yang tergabung di dalam fatwa pengawal ulama.

“Ada pro kontra soal posisi HRS yang oleh pendukung diakui Imam Besar umat Islam Indonesia, namun tersedia terhitung yang ‘satire’ Indonesia hanya dikenal Imam besar Masjid Istiqlal’. Dari situ saja tersedia perbedaan pengakuan,” ujar Alumnus UIN Jakarta itu.

Selain itu, Fadhli menilai, seruan HRS soal revolusi akhlak saat nantinya ulang ke Tanah Air terhitung tingkatkan gelagat ini. Alih-alih, melakukan perbaikan akhlak bangsa, Indonesia sebenarnya tidak kekurangan ulama yang bicara mengenai perbaikan akhlak.

“Maka, subtansi berasal dari revolusi akhlak terhitung masih tingkatkan list panjang keadaan politik. Kita mengerti peran ini (perbaikan akhlak) terhitung dijalankan para ulama kita, selama HRS di Arab,” pungkas Fadhli.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *