Jokowi Sebut Surabaya Tak Bisa Tangani COVID-19 Sendirian

Presiden Joko Widodo meminta penanganan Covid-19 di Kota Surabaya tidak hanya dibebankan kepada pemerintah Kota Surabaya saja yang dipimpin Tri Rismaharini. Menurut Jokowi, Gresik dan Sidoarjo yang merupakan daerah yang masuk dalam kawasan Surabaya Raya harus berada dalam satu manajemen dalam menekan jumlah kasus konfirmasi positif COVID-19 di Jawa Timur, khususnya di wilayah Surabaya Raya. “Enggak bisa Surabaya [tangani Covid-19) sendiri, enggak bisa.

Gresik harus dalam satu manajemen, Sidoarjo harus dalam satu manajemen dan kota kabupaten yang lain karena arus mobilitas itu, yang keluar masuk adalah dari bukan hanya Surabaya tapi daerah lain juga ikut berpengaruh terhadap naik dan turunnya angka-angka Covid ini,” kata Jokowi saat kunjungannya ke Surabaya, Jawa Timur, Kamis (25/6/2020).

Jokowi ingin agar pemerintah provinsi Jawa Timur melakukan koordinasi bersama-sama dalam penanganan Covid-19. Ia pun sudah meminta kepada Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan) 2 untuk mensinergikan penanganan Covid-19 melalui pembentukan rumah sakit darurat dan mensinergikan rumah sakit rujukan.

“Dipilahkan mana yang berat, mana yang ringan, penempatannya di rumah sakit yang mana sehingga semuanya tidak masuk ke dalam satu titik dan tidak dipisah-pisahkan dan tidak menumpuk pasien itu di satu rumah sakit sementara yang lain masih banyak yang kosong,” kata Jokowi.

Berdasarkan data http://infocovid19.jatimprov.go.id/, Kota Surabaya memang menjadi salah satu klaster besar dalam Covid-19. Per Kamis (25/6/2020) pukul 11.30 WIB, tercatat sudah ada 4.962 kasus konfirmasi positf di Kota Surabaya.

Sekitar 1.838 sembuh dan 369 meninggal. Daerah kedua dan ketiga dengan kasus konfirmasi positif pun berada di sekitar Kota Surabaya yakni Kabupaten Sidoarjo dan Kabupaten Gresik. Di Sidoarjo, setidaknya ada 1.287 kasus konfirmasi positif dengan total 97 orang meninggal.

Sementara itu di Gresik ada sekitar 534 kasus konfirmasi positif dengan total 55 orang meninggal. Selama 23 hari Badan Intelijen Negara (BIN) turun tangan ke Surabaya untuk melakukan tes COVID-19 secara massal. Hasilnya sebanyak 34.021 dengan hasil reaktif 4.603 selama 29 Mei-20 Juni di 23 lokasi. Bersama pasien reaktif dari pengetesan puskesmas berjumlah 4.637 orang, mereka lalu menjalani tes swab, hasilnya ditemukan 1.702 positif COVID-19.

Wali Kota Surabaya Tri Rismharini mengklaim sepeninggal BIN dari daerahnya, kasusnya menurun. Faktanya kurva COVID-19 seperti pelana kuda. Kasus turun dari 105 per 20 Juni jadi 56, tapi menanjak lagi jadi 143 per 22 Juni lalu turun berturut-turut per 23-24 Juni jadi 107 dan 84 kasus.

Tingginya hasil pengetesan menempatkan Surabaya sebagai episentrum baru setelah Jakarta. Ada klaster besar di Surabaya seperti penularan virus SARS-CoV-2 dari Jemaah Tabligh, pabrik rokok PT HM Sampoerna hingga sejumlah pasar.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *