Komnas HAM Kumpulkan Data Usut Kasus Penembakan Pendeta di Papua

 

 

Tidak hanya itu, Komnas HAM pula menegaskan pendekatan kekerasan hendak melahirkan kekerasan selanjutnya. Oleh karena itu, Komnas HAM mendesak penghentian kekerasan bersenjata di Papua.

” Tidak hanya perkara di atas. Komnas HAM menegaskan kembali pendekatan kekerasan, apapun alibi serta kerangka belakangnya hendak melahirkan pelanggaran HAM serta potensial kekerasan selanjutnya. Oleh karenanya Komnas HAM melantamkan penghentian kekerasan spesialnya kekerasan bersenjata supaya perdamaian berbentuk di Papua,” ucap Anam.

Buat dikenal, Pendeta Yeremia Zanambani tewas bumi berakhir ditembak oleh badan KKSB di Hitadipa, Papua. Tentara Nasional Indonesia(TNI) mengatakan aksi KKSB itu buat mencari atensi menjelang konferensi penting PBB.

Kapen Kogabwilhan III, Kubis Czi IGN Suriastawa, berkata para badan KKSB itu sudah menabur tuduhan kalau Tentara Nasional Indonesia(TNI) sudah melaksanakan penembakan. Sementara itu kenyataannya, tutur Suriastawa, penembakan itu dicoba oleh KKSB.

” Semacam yang sudah aku sampaikan kemarin, mereka lagi mencari momen menarik atensi di Konferensi Biasa PBB akhir bulan ini. Serta inilah yang aku khawatirkan, kalau susunan peristiwa sebagian hari ini merupakan settingan mereka yang setelah itu diputarbalikkan kalau Tentara Nasional Indonesia(TNI) menembak pendeta. Impian mereka, peristiwa ini jadi materi di Konferensi Biasa PBB. Aku tegaskan, kalau ini seluruh tuduhan keji dari KKSB,” tutur Suriastawa dalam penjelasan tercatat, Minggu( 20 atau 9).

Perhimpunan Gereja- Gereja di Indonesia( PGI) berambisi Kepala negara Jokowi membuat regu pelacak kenyataan buat mengusut insiden penembakan kepada Pendeta Yeremia Zanambani di Papua. PGI pula menyambut 2 tipe tewasnya Yeremia.

” Di satu bagian PGI menemukan informasi dari GKII serta pemberitaan alat lokal yang mengatakan, penembakan itu diprediksi dicoba oleh petugas Tentara Nasional Indonesia(TNI) yang lagi melaksanakan kewajiban pembedahan tentara,” tutur tutur Humas PGI Philip Situmorang dalam penjelasan pers tertulisnya, Senin( 21 atau 9 atau 2020).

Badan Komisi III DPR RI lebih menganjurkan supaya Komnas HAM melaksanakan pelacakan dini atas permasalahan ini. Komisi III berambisi permasalahan ini diusut berakhir.

” Untuk Komisi III tiap perbuatan kekerasan kepada jago agama apapun, terlebih yang menimbulkan meninggalnya jago agama itu wajib diselidiki dengan cara berakhir. Pasti pelacakan ini dapat dengan membuat regu pelacak kenyataan tertentu ataupun memohon Komnas HAM yang melaksanakannya,” tutur Badan Komisi III dari Bagian PPP, Arsul Indah pada reporter, Senin( 21 \ 9).

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *