Pilkada 2020 Pasti Diwarnai Politik Uang Ungkap Kemeninfo

Pilkada 2020 Pasti Diwarnai Politik Uang Ungkap Kemeninfo

Kurang dua bulan berasal dari sekarang, Kota Surakarta punyai pemimpin baru. Dua kandidat tengah bertarung memperebutkan kursi Wali Kota Solo.

Bagyo Wahyono dan Suparjo atau dikenal “Bajo” berasal dari jalur berdiri sendiri menantang Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa yang didukung sembilan partai politik. Di jaman awal penjaringan kandidat, awal mulanya Pilkada Solo nampak bak palagan bagi partai politik. Mereka menjanjikan calon alternatif. Tetapi, pencalonan Gibran, putra sulung Presiden Joko Widodo, merubah rancangan koalisi parpol.

Gibran memasuki gelanggang politik sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan belum genap setahun, tapi ia menarik bantuan hampir semua partai di Solo—perihal yang disebut para peneliti dan akademisi politik bahwa parpol di Indonesia adalah ajang transaksi dan kepanjangan tangan oligarki yang menyuburkan dinasti.

Solo di jaman selanjutnya adalah daerah dua kerajaan besar Jawa, Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran, yang mewariskan takhta secara turun-temurun. Berharap melanjutkan normalitas politik dinasti kuno, pemegang garis keturunan dua raja sempat memburu kendaraan politik.

Sejak jaman penjaringan bakal calon, Partai Gerakan Indonesia Raya sempat meminang Pangeran Mangkunegaran, Gusti Pangeran Haryo Paundrakarna Jiwo Suryonegoro sebagai calon wakil wali kota. Ketua lazim Gerindra, Prabowo Subianto, hanya meneken bantuan calon wali kota untuk Gibran.

Langkah politik Jokowi menggandeng Prabowo, lawannya dalam dua kali penentuan presiden, pada th. selanjutnya ditengarai berbalas bantuan Menteri Pertahanan itu ke Gibran pada penentuan Wali Kota Solo. Setali tiga duit adalah usaha Bendoro Raden Ajeng Putri Woelan Sari Dewi, cucu Raja Kasunanan Surakarta, Pakubuwono XII.

Woelan sempat mengincar posisi calon wakil wali kota dan mengusahakan melobi pengurus pusat PDIP tapi kandas berasal dari bursa sehabis partai memilih Teguh Prakosa. Setelah gagal, ia sempat berlabuh ke Partai Keadilan dan Sejahtera. Hingga akhir pendaftaran, PKS memilih abstain, tak mencalonkan siapa pun. Mundurnya PKS sebagai kekuatan politik ke dua di Solo bersama dengan lima kursi—setelah PDIP bersama dengan 30 kursi berasal dari 45 kursi yang tersedia—di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Surakarta, merubah lanskap politik jadi monoton.

Alasan partai berasas Islam menyingkir berasal dari medan laga adalah “demokrasi Solo udah terbajak oleh dominasi sistem kepartaian,” ujar Sekretaris PKS Solo, Daryono. Ia terhitung berkata, “Kreasi dan aspirasi daerah selanjutnya terkungkung karena tidak dapat melewati dominasi.” “Ini realitas berasal dari PKS, tidak dapat usung calon alternatif,” kata Daryono kepada Tirto pada September 2020.

Menurut Daryono, PKS udah merancang koalisi sejak penentuan presiden th. selanjutnya bersama dengan Partai Amanat Nasional, Golongan Karya, Gerindra—masing-masing partai punyai tiga kursi di DPRD Surakarta. Tapi, ketiga parpol itu ikut menolong Gibran. Maka, syarat sekurang-kurangnya pencalonan, yaitu sembilan kursi, yang bakal diusung PKS tak terpenuhi sehingga membuat rancangan koalisi untuk “calon alternatif” itu ambyar.

“Sampai saat ini belum tersedia sikap berasal dari PKS untuk merapat ke calon yang mana. Keputusan saat ini di tangan pengurus pusat. November nanti bakal diputuskan,” imbuh Daryono.

Restu berasal dari Megawati Lolosnya Gibran tak lepas berasal dari dirinya sebagai putra Jokowi. Dalam usia 33 tahun, dikenal pebisnis kuliner bersama dengan merk Markobar yang baru terjun sebagai politikus, Gibran diakui mengfungsikan “aji mumpung” sebagai anak presiden. Tudingan politik dinasti Jokowi berlanjut. Bobby Nasution, menantu Jokowi dan adik ipar Gibran, maju sebagai calon Wali Kota Medan. Keduanya anggota berasal dari ratusan calon terindikasi mobilisasi politik dinasti.

Menurut riset Nagara Institute, organisasi nirlaba berfokus isu politik, menemukan 124 calon Pilkada 2020 terhubung politik dinasti. Riset lain menyebut 146 calon, menurut Yoes C. Kenawas, kandidat doktor pengetahuan politik berasal dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat. Gibran, yang pada 2018 pernah berujar “kasihan rakyat kecuali tersedia dinasti politik”, meraih restu berasal dari

Ketua Umum PDIP, Megawati. Partai penguasa ini menghalau Achmad Purnomo, kader senior PDIP di Solo, pebisnis pom bensin dan wakil Wali Kota Surakarta. Semula, pengurus Dewan Pimpinan Cabang PDIP Solo udah menutup pintu bagi Gibran waktu penjaringan calon. Mekanisme seleksi tertutup ini ditentukan oleh pengurus cabang, selanjutnya diajukan ke pusat.

PDIP Solo udah menyodorkan Purnomo kepada Megawati. Memotong kompas, Gibran memburu tiket melalui Dewan Pimpinan Daerah PDIP Jawa Tengah. Ia terhitung menemui Megawati selama jaman menanti rekomendasi. Akhir berasal dari pertarungan: Gibran yang diberi restu, Purnomo tersingkir. Perkara kaderisasi dan senioritas dan juga mekanisme partai mengusulkan calon berasal dari bawah diveto oleh Megawati.

Tags:

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *