Politik Syarat Kepentingan

KONDISI terakhir kehidupan masyarakat semakin dinamis dan memperlihatkan kecerdasan yang lebih baik. Menjelang perhelatan politik pada 2019 yang akan datang, banyak hal yang dapat disaksikan berkaitan langsung dengan perkembangan, situasi, serta dinamika kehidupan politik di Tanah Air dan Aceh khususnya. Suguhan menarik di sekitar kehidupan masyarakat adalah ada berbagai pendekatan secara partai, personal dan kelompok yang ingin memanfaatkan masyarakat untuk terlibat dalam kontestasi politik tersebut.

Sesungguhnya fenomena serta hakikat yang wujud dalam kehidupan sosial masyarakat adalah nilai harmonis. Namun hal ini seringkali tidak selamanya berlaku, meskipun ada hanya menjelma dalam bentuk kehidupan masyarakat yang stabil, namun di dalam sarat dengan berbagai kecurangan, tipu daya dan muslihat, nepotisme dan lain sebagainya bersifat negatif. Semua ini sarat dengan berbagai kepentingan lebih berperan dalam kehidupan masyarakat, karena ada orang, pihak serta kelompok tertentu yang memanfaatkan masyarakat untuk kepentingannya.

Suatu hal yang terdapat dalam kehidupan sosial kemasyarakatan yaitu kelemahan secara antropologi, seringkali terlaku berhasrat atau berminat serta terikat dengan sistem. Secara keseluruhan masyarakat dalam kehidupannya terus berusaha mencari jalan keluar untuk mengatasi kehidupan yang dihadapi dengan berbagai cara mengatasi sistem yang berlaku. Apabila tersandung permaslahan hukum, maka akan berhubungan dengan delik hukum dan berhadapan dengan pengadilan. Sebenarnya jika masyarakat sepakat, akur serta memahami segala tanggung jawab adab, adat, etika, moral, serta norma sosial, maka seluruh perlakuan serta aktivitas kehidupan menjadi mudah dirancang, direncanakan dan dirangkakan menjadi lebih baik, sejahtera dan harmonis karena berlandaskan panduan kepada nilai dan norma tersebut.

Jurang perbedaan
Sesungguhnya terdapat jurang perbedaan yang jelas antara orde normatif dengan tingkah laku kehidupan sosial masyarakat yang sebenarnya. Pebedaan ini yang mendorong dinamika, perubahan terhadap kehidupan masyarakat. Demikian juga, individu, kelompok, partai politik berbuat sesuatu di luar aturan demi ingin mencapai suatu tujuan. Di mana individu sebagai manusia ekonomi (economic man) dan kelompok makhluk politik (zoon politicon) melaksanakan praktik pilihan rasional yang sanggup berbuat, berikhtiar dengan cara apapun untuk memaksimalkan perolehan serta tujuannnya.

Karena tujuan individu tidak terbatas kepada faktor ekonomi saja, tetapi sebagaimana dinyatakan oleh Gledhill (1964), juga dalam kekuasaan, yaitu politik. Dengan kata lain, secara serentak menjadi manusia ekonomi dan juga menjadi manusia politik, apabila mereka sanggup melakukan berbagai tindakan serta persoalan yang menyalahi norma untuk mendapatkan kekuasaan, mempertahankan kekuasaan atau memperluas kekuasaan.

Ini semua dilakukan secara individu atau bersama-sama partai politik atau kelompoknya dengan mengonsentarsikan cara transaksional, di mana aktor politik dan partai politik (parpol) serta kelompok mencoba mengabil kesempatan di mana saja peluang yang dapat dimanfaatkan di tengah kehidupan sosial masyarakat. Demi kepentingan individu ada anggota yang ingkar, hengkang, dan loncat partai dengan melangkahi norma dan peraturan, meskipun tidak ada aturan serta ketentuan keluar-masuk serta gonta-ganti parpol demi tercapainya tujuan tertentu dari aktor politik, tetapi ini menjadi penilaian tersendiri bagi masyarakat bahwa tidak konsisten dan susah bertanggung jawab hanya berpikir untuk diri sendiri dengan mengatasnamakan rakyat. Ini semua bagian dari tipu muslihat atau memutarbelitkan peraturan dan tujuan untuk mendapatkan keuntungan.

Hal tersebut juga dengan tindakan yang dilakukan untuk mencapai sesuatu tujuan dengaa berbagai cara, misalnya dengan menunjukkan seolah paling sibuk, paling responsif terhadap kondisi kemasyarakatan. Tampa rajin menjumpai rakyat, banyak mundar-mandir kesana-kemari menjumpai masyarakat, serta kelihatan sangat produktif menjelang tahun-tahun politik. Namun sesungguhnya tidak menghasilkan banyak output secara langsung dan signifikan terhadap kehidupan masyarakat sesungguhnya secara keseluruhan.

Demikian juga suka memperlihatkan kerja-kerja sosial, mendapat penilaian atasan atau pimpinannya, namun jika tidak diperhatikan serta dipantau akan lebih dulu menghilang dan sibuk mengurus dirinya sendiri. Sehingga dipastikan bahwa penilaian atau anggapan orang lain atau pimpinannya dialah yang terbaik, sangat produktif, sangat membanggakan dan dapat diharapkan, manakala orang lain berlaku sebaliknya dan tidak memperhatikan masyarakat.

Sikap pragmatisme
Hal ini pada dasarnya dalam praktik politik menurut Bailey (1970) sebagai sikap dan tindakan pragmatisme. Kondisi ini dapat digambarkan serta dijelaskan sebagai perlakuan yang tidak serius, karena ada maksud tertentu tetapi mengandung unsur pragmatis dalam suatu set aturan permainan yang pandai dimainkan menjelang tahun politik. Jika kita ibaratkan permainan sepakbola, ada pemain yang sengaja menjatuhkan diri di depan gawang dalam kotak pinalti meskipun ada pelanggrana sedikit, demi mendapatkan tendangan bebas atau cara mudah untuk mendapatkan gol ke gawang lawan.

Perlakuan ini masih banyak berlaku dan masih sesuai dengan aturan permainan, yaitu kekasaran mendapatkan tendangan bebas, akan tetapi sandiwara yang dimainkan tetap sebagai penipuan dan sekaligus menggambarkan sikap tidak memperlihatkan sportivitas sesungguhnya. Karena peraturan tersebut dapat saja dieksploitasi untuk menguntungkan dengan memperoleh jalan pintas untuk mendapatkan keuntungan.

Dalam kehidupan masyarakat juga terdapat berbagai peraturan; bagaimana bentuk persaingan berlaku, dan dalam setiap budaya kehidupan sosial masyarakat juga terdapat berbagai aturan yang dianggap aturan terhadap manipulasi yang dilakukan. Ini sesuai dengan cara yang telah menjadi kebiasaan dan dianggap menjadi sesuatu yang dibolehkan. Contoh, dalam situasi perang misalnya, ketidakpuasan dalam suatu kerja sama kelompok atau parpol dapat dibocorkan rahasianya melalui pembelotan, pindah dan loncat pagar dengan membongkar rahasia teman seperjuangan terhadap musuhnya.

Hal itu juga menjadi model ketidaksetiaan yang berlaku dalam politik di India, atau gaya politik di wilayah Nusantara ini dengan “surat kaleng”, atau kalau bagi kelompok mafia Italia dengan pembunuh bayaran digunakan untuk menyelesaikan masalah. Menurut adab, norma dan etika akademik ketidakpuasan, serta kondisi yang tidak menguntungkan masyarakat disampaikan dengan kritikan sehat, seperti kontestasi politik dan pemilihan umum (pemilu) yang akan datang harus disuarakan jika terdapat ketidakbenaran, dan bukan dengan menempuh jalan pintas seperti yang disampaikan tersebut.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *