Ridwan Kamil Siap Nyapres 2024

Ridwan Kamil Siap Nyapres 2024

Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil Pasang Bola (RK) kerap masuk bursa Calon Presiden (Capres) 2024 di bermacam lembaga survei belakangan ini. Sejumlah tantangan bakal dihadapi pria yang akrab disapa Kang Emil kecuali mengidamkan nyapres.

“Pertama, kelemahan RK sebagai tidak benar satu kandidat di 2024 adalah bukan anggota partai politik, seperti Puan Maharani, Airlangga Hartarto, AHY, atau Muhaimin Iskandar,” ujar pengamat politik berasal dari Universitas Jayabaya Igor Dirgantara kepada SINDOnews, Jumat (30/10/2020).

Menurut Igor, meski ketua umum atau anggota parpol elektabilitasnya tidak sebaik Ridwan Kamil, lebih berpotensi diusung daripada yang tidak memiliki kendaraan politik. “Kecuali ada aturan baru bahwa presidential threshold-nya nol persen. Di 2024, apa yang mampu berjalan terhadap Jokowi terhadap 2014, tidaklah enteng mampu terulang lagi, lebih-lebih tanpa satu cara spektakuler yang mampu menyedot perhatian publik,” ujarnya.

(Baca juga: Buka Jasa Endorse, Ridwan Kamil Mulai Garap Puluhan Merek Lokal di Pulau Jawa).

Baca Juga:

Bursa Capres 2024: Politisi Tanah Jawa Mendominasi, tapi Jangan Abaikan Tito Karnavian
Elektabilitas Ganjar Pranowo Tinggi Malah Bikin Pusing PDIP

 

Kedua, Igor menilai kelemahan lain Ridwan Kamil adalah kinerja yang masih di bawah Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo atau Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan. “Hal ini selamanya dipublikasi oleh media, survei, dan relawan,” ungkap Director Survey plus Polling Indonesia (SPIN) ini.
Masuk Bursa Capres 2024, Ridwan Kamil Hadapi Sejumlah Tantangan Ini

Igor mengatakan, penanganan Covid-19 Jawa Barat juga kerap dikritik oleh warganya sendiri, lebih-lebih tentang perlindungan sosial (bansos) yang diakui tidak cukup pas sasaran. Menurut Igor, kinerja kepala tempat umumnya adalah tolok ukur yang penting untuk peningkatan elektabilitas secara nasional.

(Baca juga: Penanganan COVID-19, Ridwan Kamil Tak Mau Gegabah Beri Denda Warga yang Tolak Vaksin).

“Ketiga, RK banyak dipersepsikan oleh publik terlampau banyak bersuara di sarana sosial ketimbang bekerja di lapangan. Ini barangkali persepsi, bukan realitas itu sendiri. Tetapi kecuali ini sebenarnya benar, maka ini wajib diperbaiki sebagai kepala daerah. Karena Papa Online atau Sandiaga Uno jauh lebih bagus dan dikenal milenial untuk urusan bermedsos ria,” pungkasnya.

 

Hal senada juga dikatakan Analis Komunikasi Politik berasal dari Universitas Paramadina Hendri Satrio. “Dari saat ini bikin perjanjian dulu mirip partai politik, kontrak mirip partai politik, jadi dia sudah pasti memiliki kendaraan,” kata Hendri Satrio yang juga pendiri Lembaga Survei Kelompok Diskusi dan Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI) itu.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *