Unggahan Elite Politik Dalam Buku Yang Di Baca

Unggahan Elite Politik Dalam Buku Yang Di Baca

Beberapa tokoh elite politik tak jarang sharing cerita bersama mengunggah bacaan mereka di account sarana sosial masing-masing. Bukan cuma membuktikan sebuah kampanye baca buku, tetapi patut diduga pula unggahan itu bersimbolkan pesan-pesan politik tertentu berasal dari buku yang dibacanya.

Terbaru adalah Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan yang mengunggah sebuah foto dirinya tengah membaca buku bertajuk ‘How Democracies Die’.

How Democracies Die merupakan buku karya seorang ilmuwan politik lulusan Universitas Harvard, Steven Levitsky dan Daniel Ziblat, yang terbit terhadap 16 Januari 2018 lalu. Anies mengunggah foto membaca buku yang dibikin terinspirasi berasal dari kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS 2016 itu lewat account instagram pribadinya @aniesbaswedan, Minggu (22/11) kemarin.

“Selamat pagi semua. Selamat nikmati Minggu pagi,” tulis Anies memberi keterangan gambar terhadap foto yang diunggahnya itu.
Taruhan Bola
Unggahan Anies itu sesudah itu menuai komentar dan penafsiran politik beragam berasal dari berbagai kalangan. Ada yang menilai itu menjadi sebuah pesan politik yang dikirimkan Anies lewat mimik muka benar-benar waktu membaca buku bersama sampul buku menghadap ke depan supaya judulnya keluar jelas, How Democracies Die. Buku ini sendiri sudah diterjemahkan ke dalam bhs Indonesia bersama judul Bagaimana Demokrasi Mati yang dialihbahasakan oleh Zia Anshor dan diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama terhadap 2019 lalu.

Pengamat politik berasal dari Universitas Andalas Asrinaldi menafsirkan unggahan Anies selanjutnya sebagai sebuah sindiran politik untuk kondisi politik di Indonesia waktu ini. Meski demikian Asrinaldi menyebut unggahan Anies tak serta merta menyasar terhadap Presiden Jokowi selaku pemimpin. Sindiran politik itu bisa termasuk menyasar terhadap para group oligarki yang menyusup ke pemerintahan.

Pun Anggota DPRD DKI Jakarta berasal dari Fraksi PDIP Gilbert Simanjuntak turut mengomentari unggahan itu. Ia menilai Anies tengah menyindir diri sendiri waktu membaca buku berjudul How Democracies Die. Sebab menurutnya, demokrasi akan mati oleh segelintir orang yang amat berkuasa, sebagaimana isi buku yang dibaca Anies.
Sebelum Anies, beberapa elite termasuk pernah membagikan bacaan mereka di sosial media. Akun Facebook Si Juki terhadap 17 Juni 2016 silam mengunggah sebuah foto yang membuktikan Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) tengah duduk manfaatkan sabuk pengaman di sebuah kendaraan sambil membaca komik karya Faza Meonk dalam edisi #Berani Gagal: Catatan Hampir Teladan Si Juki. Buku itu menceritakan pengalaman Juki dalam mengikuti berbagai penentuan menjadi penentuan RT, Kelurahan, Kecamatan, Caleg hingga Capres.

Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin termasuk pernah mengunggah ragam bacaannya bertepatan bersama hari buku nasional yang jatuh terhadap 17 Mei lewat account instagram @kyai_marufamin. Dalam unggahan itu keluar Ma’ruf membaca empat buku yang disatukan dalam satu frame kolase foto.

“Saya senang membaca buku fiqih, layaknya karya Jalaluddin al-Mahalli, Jalaluddin as-Suyuthi, dan Syekh Nawawi al-Bantani. Hal yang saya cari adalah solusi-solusi penanganan konflik di masyarakat. Saya termasuk senang membaca cerita silat karya Kho Ping Hoo. Apa buku favorit kalian?,” tulis Ma’ruf.

Kho Ping Hoo sendiri merupakan penulis cersil (cerita silat) yang amat terkenal di Indonesia. Kho Ping Hoo dikenal luas dikarenakan kontribusinya bagi literatur fiksi silat Indonesia, terutama yang bertemakan Tionghoa Indonesia. Dalam serial silatnya atau dalam satu judul buku, ia bisa melahirkan kisah baru hingga puluhan jilid.

Sementara itu, Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto terhadap 5 November 2017 silam sempat mengunggah potret dirinya membaca sebuah koran luar negeri. Unggahan foto bertema monokrom itu membuktikan Prabowo tengah duduk di sebuah ruangan. Saat diamati per Senin (23/11) unggahan itu sudah disukai sebanyak 95.460 pengguna dan mendapat 2.051 komentar.Pada 2017 silam pun Prabowo sempat memanaskan atmosfer politik Indonesia setelah membuktikan Indonesia bisa bubar terhadap 2030 bersama rujukan novel fiksi Ghost Fleet dalam acara bedah buku di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat terhadap 18 September 2017. Saking ramainya, apalagi penulis novel tersebut–Peter Warren Singer dan August Cole–ikut berkomentar di sarana sosial mereka.

Mantan pasangan Prabowo dalam penentuan presiden 2019 lalu, Sandiaga Uno termasuk pernah mengunggah potret dirinya tengah membaca sebuah buku bertajuk The Sustainable State: The Future of Government, Economy, plus Society terhadap 9 Februari 2019 lalu.

“Saatnya pulang ke Jakarta bertemu keluarga dan istirahat, dikarenakan besok saya akan berangkat lagi ke Kabupaten Brebes, Jawa Tengah untuk bertemu bersama berbagai kalangan masyarakat,” tulis Sandiaga.

Dalam sinopsis buku karangan Chandran Nair itu, sang penulis coba menuliskan soal type pengembangan pasar bebas dan pemerintah yang sudah menjadi bencana ekologi dan sosial bagi negara berkembang. Pembangunan berkelanjutan dan berkeadilan dalam buku itu disebutkan cuma dimungkinkan bersama keterlibatan aktif negara maju yang kuat yang bisa mengarahkan perekonomian, merawat lingkungan, dan mengedepankan pemenuhan kebutuhan basic rakyatnya.

Add a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *